Monday, November 23, 2015

Monday, November 23, 2015
"7 things to remember today: 
1) make peace with your past so it doesn’t spoil your present 
2) what others think of you is none of your business 
3) time heals almost everything. give time, some time 
4) no one is the reason of your happiness. except you yourself 
5) don’t compare your life to others’, you don’t know what their journey is all about 
6) stop thinking too much, it’s alright not to know all the answers 
7) smile, you don’t own all the problems in the world"

Saturday, October 31, 2015

Not a Second

Saturday, October 31, 2015
I miss you before 2 AM.
I miss you before caffeine passes my lips.
I miss you before I'm in my bed with nothing but cold, empty space to roll over to.
I miss you whether I pour cereal for breakfast or grab a drink on the way out.
I miss you when I'm out for lunch with my friends. When I'm looking over notes for that big exmas.
I miss you when I'm happy, and more when I'm sad.
When my day is going great, when the sun is shining, when the sky is a clear blue, and when my favorite song is blasting on my favorite bookstore.
I miss you when I'm hours from my deadline. I miss you when I'm doing nothing at all.
I miss you when I'm in a crowded place, worse when I'm alone.

I miss you,
and not a second that I don't.

Thursday, October 29, 2015

Panic Cord

Thursday, October 29, 2015


"Maybe I wanted you to change,
Maybe I'm the one to blame 
Maybe you were too nice to me, 
Maybe it took me way too long to leave. 

Maybe once we felt the same."

Friday, October 23, 2015

"Tidak Patah Hati"

Friday, October 23, 2015
Friday, October 23rd.

Teringat semalam, akan kata demi kata yang kau coba jelaskan. Yang tak pernah kau ucapkan seserius itu sebelumnya. Tidak dengan empat mata yang menyempitkan lingkup pandang, tidak dengan empat mata yang sekejap membuat wajahmu melebur dengan yang lain.

"Kita coba pelan-pelan, ya,"
dan,
"Kelihatannya besok bakal suram ya," you said as you took your hands off of my arms you were hugging tight to. 

Pagi tadi, kukira semua akan biasa aja. Tapi, ternyata ada banyak yang terlantarkan sesaat aku berusaha mengalihkan selimut dari tubuhku; tersadar, secara fisik dan mental ada yang tidak mendukungku untuk terus beranjak menemui kenyataan. Kenyataan bahwa hari yang kau kata suram; ternyata sudah siap menyambutku. Dalam degup jantung pertama, aku tahu ini akan berat.

Lebih berat lagi, karena aku harus tetap beraktivitas seperti biasa. Mengambil langkah berat ke kampus pagi hari, menjalani rutinitas selayaknya mahasiswa, lalu pulang setelah matahari lama menghilang ditenggelamkan kegelapan. Selayaknya orang yang sedang tidak patah hati. 
Lebih berat lagi, selama di kampus, aku juga sempat berpapasan denganmu, saat aku sedang bersama temanku, saat kamu sedang bersama temanmu. Dan kita tetap saling tersenyum, menanyakan pertanyaan pendek, dan singkat saling berbincang. Selayaknya orang yang sedang tidak patah hati. Was it tough for you as it was for me, honey?

Lebih berat lagi, ini Jumat, harusnya cepat dan menyenangkan. Memainkan peran dari pagi ke siang, dari siang ke sore, dan sore ke malam. Terasa tidak adil, ini Jumat. Melewatkan Jumat dengan rutinitas yang tidak selayaknya padat dengan berat, diselingi kalimat demi kalimatmu yang terus berdengung dalam kepala, tidak selayaknya Jumat menanggung beban seberat ini. Jangan membuat Jumat yang ceria menjadi rapuh, aku mohon.

Lebih berat lagi, ketika harus dipadatkan dengan senyuman dan tawa dan keceriaan yang harus datang memalsukan diri, menjadi wajah pengganti. Aku berbincang dengan banyak rekan yang kuusahakan tidak melihat terlalu dalam ke pelupuk mataku yang berusaha agar tidak menggenang. Tanpa henti kuusahakan nafasku tetap kuatur, tanpa henti kuusahakan rangkaku dapat menopang ruhku, tanpa henti kuusahakan suaraku tidak merendah, tanpa henti kupaksakan otakku agar berhenti memutar suaramu. Namun mereka tetap datang di setiap jeda, di setiap spasi.

Lebih berat lagi, aku sadar di malam sunyi, aku akan menyendiri dalam kamar dengan lampu redup dan headphones. Dan di waktu-waktu sendirian itu, secara tidak sadar dan tidak berhenti, aku akan mengulang-ulang kalimat yang sama di kepala,
meyakinkan hati,
tanpa bosan,
sepanjang malam,
sepanjang sunyi,
mengisi jeda, 
menyela nafas,
berulang kali.

"Aku sedang tidak patah hati."

Tuesday, October 20, 2015

Masih inget?

Tuesday, October 20, 2015
Masih inget waktu kita bersumpah satu dengan yang lain, siapa yang nanti terlebih dulu akan saling melupakan?
Masih inget sama "aku seneng bisa ngerangkai puisi panjang, dan dapat balasan puitis yang bertentangan. aku seneng. sering-sering begini, ya?" ?
Masih inget sama "engga nonton Iron Man, tapi nonton ini engga nyesel, kan?" ?
Masih inget sama the innocent 'ily's you always put in the end of your texts?
Masih inget sama edelweiss dari Mahameru?
Masih inget sama "aku di depan kelasmu, makan di kantin berdua yuk, ku tunggu," ?
Masih inget sama tragedi ulang tahun, dan boneka kecil di depan kelas, dan adegan cubit pipi, dan semuanya berakhir?
Masih inget sama "kamu tuh ya sukanya lupa, gimana kalau punya kenangan, entar pada dilupain" ? 
Masih inget sama... mungkin kamu benar, aku pelupa, engga banyak lagi yang aku inget. Mungkin, percakapan terakhir kita?

Dengan gugup setelah memandang dari kejauhan sejak lama, kamu pun pura-pura mendekat seraya tidak tahu aku datang ke pameran sekolah, setelah hampir setahun menghilang dalam dunia perkuliahan, dan kembali.
"Hei?" "Oh, Hei?" 
"Gimana kabarmu?"
"Baik."
"Lagi libur kuliah?"
"Iya."
"Kapan balik?"
"Senin, besok."
"Besok?"
aku mengangguk.

Singkat. Tapi entah, aku senang kamu menghampiriku, dan membagi senyum itu. Sudah lama rasanya. Tapi, rasanya belum beda ya. Kamu?

Ada banyak yang sebenarnya perlu ku utarakan. Banyak yang perlu ku jelaskan, yang mungkin dulu kau butuhkan.

Karena rasanya, aku senang masih bisa berteman baik denganmu.
Aku senang kamu masih mengingatku, entah, mungkin kamu mengingatku lebih baik, karena aku pernah berusaha melupakan, tetapi masih ada sisa yang tertinggal.
Aku senang, bahkan sudah setahun lebih, kamu masih mengucapkan ulang tahun, dan memberi semoga padaku.
Aku senang, karena meski sudah kuliah pun, kamu masih mengingatku, dan meminta ide untuk pembuatan karyamu. Aku senang, kita masih bisa bekerja sama. We were a perfect matches, remember? 
Aku senang, dapat notifikasi dari kamu; ketika kamu masih sempat memberi celah untuk mendengarkanku berpendapat, ketika kamu left sticker atau meninggalkan komen di salah satu post-ku di Line, ketika kamu liked a photo I posted on my instagram account.
Aku senang, setelah semua yang kulakukan, kita tidak berlagak canggung. Tapi, setiap kamu muncul di timeline, tetap saja, aktivitas 'menelan ludah', dan terpaku diam dalam tiga detik untuk sekedar melihat masa lalu masih terjadi, masih kulakukan.

*ini nulisnya sambil senyum-senyum, sambil ngapus air mata. iya. kamu apa kabar? apa aku sudah dimaafkan?
Apa kamu masih ingat?

Aku? Masih.

Wednesday, October 7, 2015

The Girl Who Can Break Up, The Boy Who Wont Say Good Bye :

Wednesday, October 7, 2015
"Lalu bagaimana ?”, tanyamu. Dan tentu saja hanya kujawab dengan diam. Sebisa mungkin kusembunyikan mataku, agar kamu tidak bisa melihat mataku yang sudah memerah.

Kita berdua baru saja mengungkap kenyataan. Setelah sekian lama, kita berdua akhirnya berani jujur soal perasaan.
Kita mulai menerima bahwa kita berdua sudah tidak lagi saling jatuh cinta.
Kamu mengakui itu, aku pun sama.
"Kita harus bagaimana ?”, lagi-lagi kamu mengulang pertanyaan yang sama. Wajar saja, karena memang kita berdua butuh kepastian.
Kali ini aku memberanikan untuk menatapmu. Meskipun aku tau air mataku sudah menggenang walaupun sudah mati-matian aku tahan. Aku melihatmu, aku tidak pernah melihatmu dalam keadaan sekacau ini. Karena itu, aku pun memaksakan diri untuk tersenyum. Siapapun boleh menangis di depanku, kecuali kamu.
“Tidak ada apa-apa, kita tidak harus bagaimana-bagaimana”, jawabku.
Kamu sepertinya memang mengharapkan jawaban itu. Ada sedikit reaksi heran yang tergambar dari raut wajauhmu, namun aku sudah mengenalmu cukup baik untuk bisa menangkap bahwa kamu pun setuju dengan jawabanku.
Tidak ada yang berubah.
Memang rasanya, tidak perlu ada yang dirubah.
Kita tidak lagi saling jatuh cinta, tapi kita menolak untuk saling meninggalkan.
Kita berdua akan tetap baik-baik saja jika kita tetap bersama. Entah apa alasannya, aku pun tidak tau jika diminta untuk menjawab. Dan aku rasa kamu pun sama.
Mungkin, karena aku masih belum siap mengucapkan selamat tinggal.
Mungkin, karena kamu belum mau melanjutkan hidup tanpa kita.
Aku tidak pernah menyangka, bahwa tidak hanya untuk saling mengenal, tapi ternyata untuk bisa kembali terbiasa hidup tanpa kamu pun juga butuh waktu.
Entah kapan kita akan siap untuk hari perpisahan itu.
Yang jelas, tidak hari ini.

—@GilangKR

Sunday, September 20, 2015

10 Things I Hate About You

Sunday, September 20, 2015
to: you (yes, you)

I hate the way you talk to me,
and the way you cut your hair.
I hate the way you drive my car,
I hate it when you stare.
I hate your big, dumb combat boots,
and the way you read my mind.
I hate you so much it makes me sick,
it even makes me rhyme.
I hate the way you're always right,
I hate it when you lie.
I hate it when you make me laugh,
even worse when you make me cry.
I hate it when you're not around,
and the fact that you didn't call.

but mostly,
I hate the way I don't hate you,
not even close, not even a little bit, not even at all.

screenplay written by: Karen McCullah Lutz and Kristen Smith

7 Things

to: him (randomly)

You're vain, your games, you're insecure
You love me, you like her
You made me laugh, you made me cry
i dont know which side to buy
Your friends they're jerk
when you act like them, just know it hurts
i wanna be with the one i know

and the seventh thing I hate the most that you do;
You make me love you.

(c) Miley Cyrus

Friday, July 24, 2015

Friday, July 24, 2015
"Do you love him?" you asked quietly, the words heavy on your lips like they caused you pain.
"His words are soft and sweet, I could listen to them all day." I answered with a lazy smile across my face.
"But do you love him?" you asked again. It came out stronger this time, as if you were prepared for the answer, even though you knew it could break you into a million jagged little pieces.
"He makes me smile, makes me forget how screwed the world is. He talks good, and funny, and we have same interest on things, we have really good connection." I closed my eyes, and took a deep breath. I envisioned his smile, his laugh, his soft voice coming in my ear.
"You're not answering my question. Do you fucking love him?" you all but shouted this time. You needed an answer, you needed something to give you closure.


"No, goddammit. No." I yelled, frustrated at the storm of a guy with the butterscotch hair. "No I dont fucking love him. He helps me forget, but he doesn't drive me crazy. He doesn't make me want to try harder until years in front for us to be closer so we can have more intimacy. We never argue. With him it's easier than it ever was with us, I never fall asleep with tears. He's nice, and sweet, but perfect in every way." I paused for a moment and realised my words bring tears to the eyes of the broken soul living inside of my body.
"But he's not you." I continued. "I don't love him. How can I when I'm so stupidly, insatiably, completely and utterly in love with you. Is that what you wanted to hear?" and I break myself into a million jagged little pieces.


words I wish I could tell you, when you asked if I liked him.

Monday, July 20, 2015

She was in Love

Monday, July 20, 2015
"She fell in love with a little piece of everyone. Be it the way they walked or the way they talked, or the way their eyes sparkled blue like the sea. It could have been the way they smiled with every single one of their teeth, or the way their brow crinkled when they were lost in thought. Maybe that was why she gave everyone slices of herself, hoping that they’d cherish that bit of her the way she cherished them. Even when that meant she had nothing left to give, except her love. But it also meant that she was never alone because people were drawn to her, or rather to what she saw in them, like moths to a flame."

Saturday, February 14, 2015

Tujuh Belas.

Saturday, February 14, 2015
4 Februari 1998 -
4 Februari 2015, and counting.

Genap tujuh belas tahun waktu yang--entah sudah kugunakan untuk apa saja: ku siakan, ku sesalkan, ku hamburkan, ku tangiskan, ku lampaukan, ataupun ku syukurkan.

Tetapi tetap, ku selipkan senyum dan ria dalam selanya.

Banyak yang terjadi selama tujuh belas tahun hidupku: ada yang lahir, ada yang tumbuh, ada juga yang pergi, dan ada yang kembali, ada yang masih berusaha, ada juga yang lelah dan menyerah, ada yang datang, ada juga yang akhirnya menyingkir.

Sekarang, mungkin aku hanya mampu berterima kasih.
Terima kasih atas tujuh belas tahun senja yang emas,
Terima kasih atas tujuh belas tahun fajar yang manis,
Terima kasih atas tujuh belas tahun bintang yang anggun,
Terima kasih atas tujuh belas tahun awan yang sempat mendung,

Terima kasih atas hujan dan badai,
Terima kasih atas pelangi yang datang setelahnya, ataupun
Terima kasih atas banjir dan petaka yang datang setelahnya
Terima kasih atas kalian yang membantuku menari sembari badai,
Terima kasih atas kalian yang membantuku berteduh,

Terima kasih atas kalian yang membagi kasih,
Terima kasih atas kalian yang mengajari tentang hidup,
Terima kasih atas kalian yang bernyanyi senandung sendu,
Terima kasih atas kalian bersama cerita yang tak berhujung,
Terima kasih atas kalian dengan maskara di bawah rintihan rindu

Terima kasih atas gemerlap, dan
Terima kasih atas siluetnya,
Terima kasih.

Untuk tujuh belas tahun mendatang...bagaimana?

Untuk sekarang, aku bersama mereka:
 

 Dan masih bersamanya--yang satu ini, setelah sepuluh tahun (dont ask):

Yang berulang tahun,