Saturday, October 31, 2015

Not a Second

Saturday, October 31, 2015
I miss you before 2 AM.
I miss you before caffeine passes my lips.
I miss you before I'm in my bed with nothing but cold, empty space to roll over to.
I miss you whether I pour cereal for breakfast or grab a drink on the way out.
I miss you when I'm out for lunch with my friends. When I'm looking over notes for that big exmas.
I miss you when I'm happy, and more when I'm sad.
When my day is going great, when the sun is shining, when the sky is a clear blue, and when my favorite song is blasting on my favorite bookstore.
I miss you when I'm hours from my deadline. I miss you when I'm doing nothing at all.
I miss you when I'm in a crowded place, worse when I'm alone.

I miss you,
and not a second that I don't.

Thursday, October 29, 2015

Panic Cord

Thursday, October 29, 2015


"Maybe I wanted you to change,
Maybe I'm the one to blame 
Maybe you were too nice to me, 
Maybe it took me way too long to leave. 

Maybe once we felt the same."

Friday, October 23, 2015

"Tidak Patah Hati"

Friday, October 23, 2015
Friday, October 23rd.

Teringat semalam, akan kata demi kata yang kau coba jelaskan. Yang tak pernah kau ucapkan seserius itu sebelumnya. Tidak dengan empat mata yang menyempitkan lingkup pandang, tidak dengan empat mata yang sekejap membuat wajahmu melebur dengan yang lain.

"Kita coba pelan-pelan, ya,"
dan,
"Kelihatannya besok bakal suram ya," you said as you took your hands off of my arms you were hugging tight to. 

Pagi tadi, kukira semua akan biasa aja. Tapi, ternyata ada banyak yang terlantarkan sesaat aku berusaha mengalihkan selimut dari tubuhku; tersadar, secara fisik dan mental ada yang tidak mendukungku untuk terus beranjak menemui kenyataan. Kenyataan bahwa hari yang kau kata suram; ternyata sudah siap menyambutku. Dalam degup jantung pertama, aku tahu ini akan berat.

Lebih berat lagi, karena aku harus tetap beraktivitas seperti biasa. Mengambil langkah berat ke kampus pagi hari, menjalani rutinitas selayaknya mahasiswa, lalu pulang setelah matahari lama menghilang ditenggelamkan kegelapan. Selayaknya orang yang sedang tidak patah hati. 
Lebih berat lagi, selama di kampus, aku juga sempat berpapasan denganmu, saat aku sedang bersama temanku, saat kamu sedang bersama temanmu. Dan kita tetap saling tersenyum, menanyakan pertanyaan pendek, dan singkat saling berbincang. Selayaknya orang yang sedang tidak patah hati. Was it tough for you as it was for me, honey?

Lebih berat lagi, ini Jumat, harusnya cepat dan menyenangkan. Memainkan peran dari pagi ke siang, dari siang ke sore, dan sore ke malam. Terasa tidak adil, ini Jumat. Melewatkan Jumat dengan rutinitas yang tidak selayaknya padat dengan berat, diselingi kalimat demi kalimatmu yang terus berdengung dalam kepala, tidak selayaknya Jumat menanggung beban seberat ini. Jangan membuat Jumat yang ceria menjadi rapuh, aku mohon.

Lebih berat lagi, ketika harus dipadatkan dengan senyuman dan tawa dan keceriaan yang harus datang memalsukan diri, menjadi wajah pengganti. Aku berbincang dengan banyak rekan yang kuusahakan tidak melihat terlalu dalam ke pelupuk mataku yang berusaha agar tidak menggenang. Tanpa henti kuusahakan nafasku tetap kuatur, tanpa henti kuusahakan rangkaku dapat menopang ruhku, tanpa henti kuusahakan suaraku tidak merendah, tanpa henti kupaksakan otakku agar berhenti memutar suaramu. Namun mereka tetap datang di setiap jeda, di setiap spasi.

Lebih berat lagi, aku sadar di malam sunyi, aku akan menyendiri dalam kamar dengan lampu redup dan headphones. Dan di waktu-waktu sendirian itu, secara tidak sadar dan tidak berhenti, aku akan mengulang-ulang kalimat yang sama di kepala,
meyakinkan hati,
tanpa bosan,
sepanjang malam,
sepanjang sunyi,
mengisi jeda, 
menyela nafas,
berulang kali.

"Aku sedang tidak patah hati."

Tuesday, October 20, 2015

Masih inget?

Tuesday, October 20, 2015
Masih inget waktu kita bersumpah satu dengan yang lain, siapa yang nanti terlebih dulu akan saling melupakan?
Masih inget sama "aku seneng bisa ngerangkai puisi panjang, dan dapat balasan puitis yang bertentangan. aku seneng. sering-sering begini, ya?" ?
Masih inget sama "engga nonton Iron Man, tapi nonton ini engga nyesel, kan?" ?
Masih inget sama the innocent 'ily's you always put in the end of your texts?
Masih inget sama edelweiss dari Mahameru?
Masih inget sama "aku di depan kelasmu, makan di kantin berdua yuk, ku tunggu," ?
Masih inget sama tragedi ulang tahun, dan boneka kecil di depan kelas, dan adegan cubit pipi, dan semuanya berakhir?
Masih inget sama "kamu tuh ya sukanya lupa, gimana kalau punya kenangan, entar pada dilupain" ? 
Masih inget sama... mungkin kamu benar, aku pelupa, engga banyak lagi yang aku inget. Mungkin, percakapan terakhir kita?

Dengan gugup setelah memandang dari kejauhan sejak lama, kamu pun pura-pura mendekat seraya tidak tahu aku datang ke pameran sekolah, setelah hampir setahun menghilang dalam dunia perkuliahan, dan kembali.
"Hei?" "Oh, Hei?" 
"Gimana kabarmu?"
"Baik."
"Lagi libur kuliah?"
"Iya."
"Kapan balik?"
"Senin, besok."
"Besok?"
aku mengangguk.

Singkat. Tapi entah, aku senang kamu menghampiriku, dan membagi senyum itu. Sudah lama rasanya. Tapi, rasanya belum beda ya. Kamu?

Ada banyak yang sebenarnya perlu ku utarakan. Banyak yang perlu ku jelaskan, yang mungkin dulu kau butuhkan.

Karena rasanya, aku senang masih bisa berteman baik denganmu.
Aku senang kamu masih mengingatku, entah, mungkin kamu mengingatku lebih baik, karena aku pernah berusaha melupakan, tetapi masih ada sisa yang tertinggal.
Aku senang, bahkan sudah setahun lebih, kamu masih mengucapkan ulang tahun, dan memberi semoga padaku.
Aku senang, karena meski sudah kuliah pun, kamu masih mengingatku, dan meminta ide untuk pembuatan karyamu. Aku senang, kita masih bisa bekerja sama. We were a perfect matches, remember? 
Aku senang, dapat notifikasi dari kamu; ketika kamu masih sempat memberi celah untuk mendengarkanku berpendapat, ketika kamu left sticker atau meninggalkan komen di salah satu post-ku di Line, ketika kamu liked a photo I posted on my instagram account.
Aku senang, setelah semua yang kulakukan, kita tidak berlagak canggung. Tapi, setiap kamu muncul di timeline, tetap saja, aktivitas 'menelan ludah', dan terpaku diam dalam tiga detik untuk sekedar melihat masa lalu masih terjadi, masih kulakukan.

*ini nulisnya sambil senyum-senyum, sambil ngapus air mata. iya. kamu apa kabar? apa aku sudah dimaafkan?
Apa kamu masih ingat?

Aku? Masih.

Wednesday, October 7, 2015

The Girl Who Can Break Up, The Boy Who Wont Say Good Bye :

Wednesday, October 7, 2015
"Lalu bagaimana ?”, tanyamu. Dan tentu saja hanya kujawab dengan diam. Sebisa mungkin kusembunyikan mataku, agar kamu tidak bisa melihat mataku yang sudah memerah.

Kita berdua baru saja mengungkap kenyataan. Setelah sekian lama, kita berdua akhirnya berani jujur soal perasaan.
Kita mulai menerima bahwa kita berdua sudah tidak lagi saling jatuh cinta.
Kamu mengakui itu, aku pun sama.
"Kita harus bagaimana ?”, lagi-lagi kamu mengulang pertanyaan yang sama. Wajar saja, karena memang kita berdua butuh kepastian.
Kali ini aku memberanikan untuk menatapmu. Meskipun aku tau air mataku sudah menggenang walaupun sudah mati-matian aku tahan. Aku melihatmu, aku tidak pernah melihatmu dalam keadaan sekacau ini. Karena itu, aku pun memaksakan diri untuk tersenyum. Siapapun boleh menangis di depanku, kecuali kamu.
“Tidak ada apa-apa, kita tidak harus bagaimana-bagaimana”, jawabku.
Kamu sepertinya memang mengharapkan jawaban itu. Ada sedikit reaksi heran yang tergambar dari raut wajauhmu, namun aku sudah mengenalmu cukup baik untuk bisa menangkap bahwa kamu pun setuju dengan jawabanku.
Tidak ada yang berubah.
Memang rasanya, tidak perlu ada yang dirubah.
Kita tidak lagi saling jatuh cinta, tapi kita menolak untuk saling meninggalkan.
Kita berdua akan tetap baik-baik saja jika kita tetap bersama. Entah apa alasannya, aku pun tidak tau jika diminta untuk menjawab. Dan aku rasa kamu pun sama.
Mungkin, karena aku masih belum siap mengucapkan selamat tinggal.
Mungkin, karena kamu belum mau melanjutkan hidup tanpa kita.
Aku tidak pernah menyangka, bahwa tidak hanya untuk saling mengenal, tapi ternyata untuk bisa kembali terbiasa hidup tanpa kamu pun juga butuh waktu.
Entah kapan kita akan siap untuk hari perpisahan itu.
Yang jelas, tidak hari ini.

—@GilangKR